Monday, September 24, 2007
Hari Bebas Kendaraan Bermotor yang Gagal!

Hari Bebas Kendaraan Bermotor yang Gagal!

(setidaknya menurut saya sendiri)

 

Hari Sabtu 22 September 2007, pemerintah DKI mencanangkan program HBKB atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau dalam bahasa Inggrisnya Car Free Day.

Program ini dilakukan untuk pengukuran emisi gas kendaraan di kawasan Sudirman – Thamrin.

Untuk itu,diadakan penutupan jalan bagi segala macam kendaraan pribadi di jalur Sudirman, dimulai dari Patung Pemuda atau Api Nan tak Kunjung Padam di bunderan Senayan, lurus sampai Thamrin di Patung Arjuna.

Jadi yang boleh lewat jalur itu hanya kendaraan umum, bis kota, busway dan taksi.

 

Buat saya pribadi yang ndak punya motor apalagi mobil, HBKB seharian dari jam 6 pagi sampai jam 6.30 sore ini, saya bayangkan akan menjadi hari yang mengasyikkan.

Bagaimana tidak? Dalam pikiran saya, warga Jakarta yang sadar akan artinya mengurangi polusi udara, akan bersama sama STOP mengendarai kendaraan pribadi di hari Sabtu yang indah itu. Naik busway sama sama. Duduk atau berdiri sama sama. Dan merasakan segarnya udara Jakarta sehari itu sama sama.

 

Sejak berangkat menuju Sudirman dari Matraman dengan busway, saya semata mata bukan untuk nonton sepinya jalur Sudirman-Thamrin, tapi untuk menghabiskan waktu libur saya di perpustakaan Dik Nas di Sudirman.

Tapi sejak busway yang saya naiki masuk halte Dukuh Atas, saya melihat ketidakkonsistenan yang terjadi.

Mobil-mobil pribadi masuk ke jalur lambat Sudirman. Bahkan beberapa melaju dengan santainya di jalur cepat. Meskipun di beberapa tempat polisi sudah siap mengarahkan mobil-mobil itu kembali ke jalur lambat.

 

Seorang sahabat yang kebetulan bersama saya pergi ke perpus Dik Nas dan melihat 'pelanggaran' itu merasa kecewa sekali melihat ketidakperdulian warga Jakarta terhadap program pemerintah tersebut. Dan kekecewaan kami semakin bertambah ketika kami keluar dari perpus Dik Nas pada pukul 2 siang, kendaraan yang masuk ke Sudirman semakin bertambah banyak. Kemacetan di jalur lambat tampak di banyak ruas jalan.

 

Saya kok heran.

Yang punya mobil-mobil itu, banyak pula mobil bagus yang terjebak kemacetan, kan pasti orang orang yang secara finansial kuat, pendidikan juga bagus, apalagi pekerjaannya. Apa iya gak baca koran? Apa iya gak lihat tivi? Apa iya gak dapat email dari rekan-rekan kerja? Apa iya gak bisa baca spanduk? Apa iya gak dapat informasinya dari teman-teman?

Program HBKB setidaknya dua minggu sebelumnya sudah disosialisasikan,

bahwa hari Sabtu 22 September 2007, ada Hari Bebas Kendaraan Bermotor di jalur Sudirman Thamrin!

Lha kok masih keras kepala untuk melintas!

Lha kok masih sombong untuk nyelonong!

Gimana mau memajukan Indonesia, kalau hal itu saja tidak diperdulikan?

 

Sepanjang jalan menuju pulang, saya sering tersenyum dan menggeleng.

Ketika sahabat saya bertanya ada apa, saya hanya menggeleng lagi.

 

Heran, mereka yang melanggar kok saya yang sewot ya?

Saya sewot karena apa sih?

Karena tidak punya mobil?

Karena tidak bisa melanggar karena tidak punya mobil?

Atau karena apa?

Saya sewot karena saya prihatin.

Sebab saya masih ingin melihat, negara saya menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit, dari hari ke hari.

Saya masih berharap, sama seperti sahabat dan teman teman lain yang Alhamdulillah punya mobil dan mendukung program HBKB tersebut, bahwa udara Jakarta akan lebih bersih.

Tapi kalau harapan sekecil itu pun akhirnya sia sia, ya maafkan saya, karena sudah sewot di bulan puasa.

Tetapi yang lebih penting, saya memaafkan anda semua yang membuat saya sewot di momen HBKB di bulan puasa, wahai para pemilik mobil yang tetap ngotot jalan di waktu dan tempat yang dilarang.

Semoga puasa dan amal ibadah kita di hari itu diterima oleh Allah SWT.

Amin.

 

 

 


Posted at 10:40 am by Rudolf28
Make a comment  

Monday, August 13, 2007
katakataku

aku menemukanmu, bukuku yang berdebu.

di antara tumpukan catatan waktu.

akan kutulis lagi di setiap lembarmu

katakataku

tentang cinta, hidup, benci dan haru biru.

tapi kali ini

aku tak akan mencelupkan penaku

dalam tinta emosiku.

Aku hanya akan menggoreskannya begitu saja.

Sampai aku yakin kita semua bisa membacanya.

 


Posted at 03:47 pm by Rudolf28
Comment (1)  

Wednesday, October 18, 2006
Sugeng ndalu, sugeng bobok

Para sadherek, para kanca sakabehe,
dina iki, bengi iki, sejatine bakal dadi sing pungkasan aku manggon ing kutha sing  pancen tak trisnani tenan iki, Jogja.
Wis telulas tahun, anggone aku madhang segane Jogja, ngombe banyune Jogja, ambegan ing Jogja, ugi kekancan, ning ora mung karo kanca Jogja, nanging karo kanca-kanca saka sak Indonesia.
Angkringan lan sega kucinge, bunderan UGM, Malioboro, demonstrasi, kerusuhan, gempa, kaliurang, merapi, parangtritis uga candi candi wis manggon ing hatiku. 
Telulas tahun, aku turu ing sak ngisore langit bengi kutha iki.
Saiki, bengi iki, bakal dadi bengi sing pungkasan, aku turu ing sak ngisore langit kutha sing tak trisnani iki.
Aku pengin, bengi iki dadi bengi sing tentrem, adhem lan ayem,
ora mung kanggoku, nanging uga kanggo kanca sak kabehe.
Sugeng ndalu, sugeng bobok,...


Posted at 09:32 pm by Rudolf28
Comment (1)  

Monday, October 16, 2006
Siapa Berhak Menulis Sejarah?

Siapa berhak menulis sejarah?
Politikus,
negarawan,
atau penulis bayaran?

Karena sejarahmu, sejarahku,
sejarah kita, tak semuanya sama,
lalu mengapa kita hanya taat pada satu buku,
dan percaya pada satu guru,
jika  aku mereguk bahagia
sedangkan engkau merasakan luka?

Siapa berhak menulis sejarah?
Kamu,
aku,
atau kita semua?
Karena ternyata tak penting siapa yang menulis sejarah.
Sebab apa yang kita yakini hari ini
belum tentu benar esok hari.


Posted at 09:38 pm by Rudolf28
Comments (2)  

Thursday, October 12, 2006
Malaikat Malaikat yang Turun ke Bumi

Pernahkah terpikir oleh kita?

Bahwa satu di antara kita

adalah malaikat yang dikirim Tuhan

untuk menolong teman, sahabat, kekasih atau keluarga kita?

Pernahkah terlintas dalam benak kita,

bahwa malaikat itu bisa jadi adalah

salah satu di antara kita?

Saya, kamu atau dia?

Wallahualam.


Posted at 10:21 pm by Rudolf28
Make a comment  

Wednesday, October 04, 2006
Sahur Pertama 14

Ya Allah,
mengapa harus kuhitung berapa jarak ke masjid untuk berjamaah, jika jarak ku dengan kematian hanya sekedip mata?


Posted at 12:20 pm by Rudolf28
Make a comment  

Tuesday, October 03, 2006
Sahur Pertama 13

Kekasihku, Engkau pernah menjadikanku selembar kertas kosong.
Putih tanpa garis.
Lalu waktu membawaku melalui perjalanan
yang menorehkan lengkung, titik, garis dan koma
di halaman putihku.
Kekasihku, butuh berapa lama
untuk membersihkan kembali hati dan jiwaku yang kotor dan lusuh
oleh salah, khilaf dan dosa?
Aku bukanlah kemarau setahun yang bisa terhapus oleh hujan sehari.
Satu Ramadhan tidaklah cukup,
untuk membersihkan dosa-dosa yang kulakukan seumur hidupku.
Tetapi aku yakin Engkau memberikan setiap detik kepadaku
untuk bersimpuh di kaki Mu dan memohon ampun kepada Mu.
Tetapi jangan biarkan aku
sedetik menangis di pelukan Mu
lalu sedetik kemudian pergi meninggalkan Mu.


Posted at 09:35 pm by Rudolf28
Make a comment  

Sahur Pertama 12

Lewat tengah malam Warni terjaga. Besok puasa pertama, ia harus bangun sekarang dan menyiapkan makan sahur. Tetapi hatinya risau.
Lalu perempuan itu duduk dalam remang kamarnya yang pengap oleh asap obat nyamuk bakar. Dipandangnya kedua anaknya yang masih terlelap. Di lantai, Hilman suaminya terbaring kelelahan setelah seharian menarik becak mencari nafkah untuk mereka semua.
Malam itu laki-laki itu pulang ke rumah dengan kondisi tak keruan. Becaknya disrempet angkutan dan ia sendiri terluka di kening, siku dan lututnya.
Tetapi siapapun masih bisa bilang, " Untung cuma luka di situ."
Hilman tak memikirkan lukanya tetapi yang membuatnya galau adalah becak pinjamannya rusak cukup parah. Sehingga ia harus mengembalikannya kepada juragannya dan memberikan semua hasil menarik becak seharian sebagai ongkos perbaikan.
Dan ketika pulang ke rumah malam itu, laki-laki itu hanya bisa menunjukkan kepada istrinya, memar dan luka-luka yang masih tertinggal di tubuhnya.
"Aku ndak bawa uang," ucap laki-laki itu lirih
Warni tersenyum untuk mencoba melegakan perasaan suaminya. Lalu dibersihkannya luka laki-laki itu dan diobatinya seadanya.
"Istirahat dulu," bisik Warni kepada Hilman.
Kemudian laki-laki itu membaringkan dirinya di lantai beralas tikar tipis dan berselimut sarung.

Warni beranjak ke dapur. Hati dan pikirannya masih galau. Seekor tikus yang melintas tak dihiraukannya. Di dapur beras hanya tinggal segenggam, dan suaminya tak membawa sepeserpun uang atau sebungkus makanan.
Dalam diamnya, perempuan itu menyiapkan bubur untuk sahur. Beras segenggam dan air segayung, cukup untuk membuat bubur.
Tak lama kemudian bubur itu sudah siap. Hangat.
Tiba-tiba mata perempuan itu tertuju pada sebuah botol plastik kecil di pojok lantai dapur.
Satu tetes saja mungkin tak akan menyakiti, batinnya.
Ketika Warni membuka botol itu dan hendak menuangkan isinya ke dalam bubur yang masih hangat, anak bungsunya terbangun dan menyusulnya ke dapur.
Bocah perempuan itu memandang ibunya dengan senyum paling tulus.
"Makan sahur ya Mak?" tanya bocah itu polos.
Warni tersentak. Tangannya gemetar.
Dan setetes racun dari botol plastik itu jatuh ke dalam bubur.
Satu satunya makan sahur mereka.


Posted at 11:54 am by Rudolf28
Make a comment  

Monday, October 02, 2006
Sahur Pertama 11

Mengapa Tuhan menciptakan si buta?

Mungkin, agar mereka tak melihat yang tak seharusnya.

Mengapa Tuhan menciptakan si bisu?

Barangkali supaya mereka tak berujar yang tak sepantasnya.

Mengapa Tuhan menciptakan si tuli?

Bisa jadi agar mereka tak mendengar yang tak selayaknya.

Lalu mengapa Tuhan menciptakan kita?

Sosok-sosok yang secara fisik "sempurna"?


Posted at 12:43 pm by Rudolf28
Make a comment  

Sahur Pertama 10

Sampai sekarang, aku masih ingat doa kanak kanakku yang pertama kali kupanjatkan kepada Tuhan.
Saat itu, tengah malam. Aku belum bisa tidur.
Tubuhku terbaring di ranjang, tetapi pikiranku berkeliaran.
Entah dari mana tiba-tiba ide itu muncul.
Aku berdoa kepada Tuhan.
Tetapi yang kuinginkan hanyalah balon-balon,
merah, hijau, dan ungu
putih, kuning dan biru.
Saat itu aku yakin, Tuhan akan mengabulkan doaku.
Aku tidak tahu mengapa aku begitu yakin bahwa doaku akan terkabul.
Lalu aku pun tertidur.
Saat aku bangun keesokan harinya dan tak kudapati balon-balon itu,
aku tidak kecewa.
Hari demi hari aku hanya menunggu Tuhan akan mengabulkan doaku.
Sampai suatu ketika aku lupa dan kelak kusadari bahwa Tuhan tidak pernah mengabulkan doaku yang satu itu.
Tuhan tidak pernah mengirimkan balon-balon kepadaku.
Tetapi Tuhan menggantinya dengan masa masa terindah dalam hidupku.


Posted at 11:29 am by Rudolf28
Make a comment  

Next Page

   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed